Minggu, 13 Januari 2013

Rabu, 09 Januari 2013

mikro dan makro ekonomi

Ingatkah kita tentang ilmu ekonomi? tentu kita semua tahu ilmu ini,(ya ia lah wong urusannya sama duit dan perut), bahkan banyak orang yang berasumsi bahwa jika seseorang tidak mapan ilmu ini rsikonya ialah di bawah perut yang jadi agunannya. baiklah kita tinggakan saja asumsi-asumsi yang dianggap tidak tetap tadi(non cateries paribus) Secara umum ilmu ekonomi menerangkan bagaimana usaha manusia untuk memakmurkan kehidupannya dengan berbagai macam kebutuhan yang dihadapakan pada sumber daya (resource) yang terbatas.Dalam perkembangan berikutnya ilmu ekonomi terbagi menjadi tiga bagian yakni ekonomi deskriptif, teoritis dan aplikatif. Ekonomi deskriptif (descriptive economy): mengumpulkan keterangan-ketrengan yang faktual mengenai sesuatu masalah ekonomi. Ekonomi teoritis (teoritical ecomics/ principle economics): yang selanjutnya dipecah lagi menjadi teori ekonomi mikro dan teori ekonomi makro, tugasnya ialah enerangkan secara umm sistem erekonomian. Apabila yang dibahas merupakan perilaku-perilaku ekonomi individual dalam kerangka sistem perekonomian, maka masuk dalam kategori mikro konomi, sebaliknya jika yang dibahas ialah mekanisme berjalannya ekonom secara kesuluruhan maka masuk kedalam makro ekonomi. Ekonomi terapan (applied economics): Tugasnya ialah menggunakan hasil pemikiran-pemikiran yang terkumpul dalam teori ekonomi untuk menerangkan ketrangan-keternagan yang diperoleh ekonomi deskriptif. Dalam kesempatan ini saya akan sedikit membahas teori ekonomi mikro dan makro. A. Ekonomi mikro Ekonomi mikro atau yang lebih sering disebut micro economics merupakan cabang dari ilmu ekonomi yang membahas perilaku-perilaku rumah tangga, perusahaan ataupun pasar secara indvidual. Eknomi mikro diperkenalkan oleh ahli-ahli ekonomi klasik yakni: Adam Smith,David Ricardo (murid dari Adam Smith) yang kemudian dikembangkan oleh Marshall dan Pigou.Dalam ekonomi klasik yang dibicarakan ialah bagaiamana memanfaatkan sumber daya secara efisien dalam rangka mencapai kepuasan maksimum. Sehubungan dengan hal di atas maka dalam mkiro ekonomi maslah yang muncul ialah 1) Barang dan jasa apa yang akan di produksi? Merupakan persoalan yang akan menentukan kegiatan-kegiatanekonomi yang dijalankan dalam perekonomian. Dengan kata lain, pilihan-pilihan para pembeli/konsumen merupalan faktor penting dalam menentukan jenis-jenis kegiatan produksi yang harus dijalankan. Aanalisis mengenai interaksi diantara produsen dan konsumen diterangkan dalam teori permntaan dan penawaran.Dan teori perilaku konsumen menerangkan dengan lebih terperinci mengenai sikap para pembel dalam memilih barang dan jasa yang akan dibelinya. 2) Bagaimana cara memproduksinya? Untuk mewujudkan barang dan jaa dipelkan faktor-faktor produksi. Fakor-faktor prodksi yang tersedia dalam setiap perkonomian tebatas jumlahnya dan memerlukan biaya atau pengorbanan untuk memperolehnya. Oleh karena itu perusahaan harus membuat pilihan agar dapat mncapai efisiensi yang tinggi dalam menggunakan faktor-faktor produksi. Dengan perkataan lain sebelum menjalankan kegiatan memproduksi, setiap perusahaan harus menyelesaikan persoalan ini yaitu bagaiamana cara memproduksinya? Analisis yang digunakan untk menyelesaikan masalah ini ialah teori produksi, biaya produksi dan strukur pasar. 3) Untuk siapa barang akan diproduksi? Sebagai akibat dari penggunaan faktor-faktor produksi dalam kegiatan menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat, akan tercipta aliran pendapatan kepada pemilik faktor-faktor produksi yang digunkan. Aliran ini akan menentukan corak distribusi pendapatan dalam masyarakat. Selanjutnya corak distribusi pendapatan ini akan menentkan corak permntaan masyarakat ke atasbarang dan jasa. Dengan demkian, aliran - aliran pendapatan yang berlaku sebagai akiabt kegiatan mempoduksi barang dan jasa akan dapat meecahakan persoalan: Untuk siapakah barang dan jasa tersebut diproduksi? B. Eonomi Makro Ekonomi makro merupakan cabang ilmu ekonomi yang membahas kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Pada awalnya ekonomi makro muncul sebagai akibat dari ketidakmampuan ahli ekonomi klasik menganalisis masalah ekonomi yang dihadapi oleh suatu negara secara global. Misalanya pengangguran, inflasi, pertumbuahan ekonomi dll.Hal itu dibuktikan ketika tahun 1929 - 1932 terjadi kemunduran ekonomi di seluruh dunia, yang bermula dari kemerosotan eknomi Amerika Serikat. Peride ini dinamakan The Great Depression. Kemunduran ekonaomi itu meluas hampir kesemua negara-negara di dunia. Kemnduran eknomi tersebut menmbulkan kesadaran kepada ahli-ahli ekonomi bahwa mekanisme pasar tidak dapat secara otomatis tidak dapat menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang teguh dan tingkat penggunaan kerja penuh. Ketidakmampuan tersebut mendorong seorang ahli ekonomi berkebangsaan Inggris J.M Keyness mengmukakan pandangan dan menuls buku The Teorr of Employment, Interst and Money (diterbitkan tahun 1936) yang kemdian menjadi landasan teori ekonoi makro modern. Isu-isu yang dibaas dalam makro ekonomi diantaranya: a. masalah pertumbuhan ekonomi b. masalah ketidakstabilan kegiatan ekonomi c. masalah pengangguran d. masalah kenaikan harga-harga (inflasi) e. masalah neraca perdagangan dan neraca pembayaran

Jumat, 21 Desember 2012

* Tafsir Al-Qur’an Surat Luqman ayat 12 -19


وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ – لقمان 12

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
Luqman, nama lengkapnya adalah Luqman bin Faghur bin Nakhuur bin Tarih. Demikian pendapat yang dikemukakan Muhammad bin Ishaq. Menurut versi lain, nama lengkapnya Luqman bin ‘Anqo’ bin Saduun.
Dalam sebuah hadits, Ibnu Umar menyatakan “Aku pernah mendengar Rosululloh Saw. bersabda: Luqman bukanlah seorang Nabi. Akan tetapi ia adalah seorang hamba yang gemar tafakkur, berkeyakinan baik dan cinta kepada Alloh. Hingga Alloh mencintainya dan kemudian menganugerahi hikmah kepadanya.” Pendapat jumhur ulama’ pun mengungkapkan bahwa beliau adalah seorang wali yang sholih. Meski pendapat lain menyatakan beliau adalah seorang nabi.
Suatu ketika seorang laki laki mendapati Luqman sedang berbicara dengan hikmah. Ia pun terheran heran dan bertanya, “Bukankan anda adalah penggembala kambing?” Luqman menyahut, “Benar.” “Lalu, bagaimana anda bisa mendapat derajat seperti itu?” tanyanya. Ternyata Luqman memberikan jawaban yang cukup mengherankan, “Demikian ini aku peroleh adalah dengan selalu besikap jujur dalam berbicara, menunaikan amanat yang aku emban dan menghindari hal hal yang tidak berguna.”
Postur Luqman adalah sosok laki laki yang berkulit hitam dan berbibir tebal. Bila beliau memergoki seseorang yang memandanginya, beliau akan berkata, “Jika engkau melihatku orang yang berbibir tebal, tapi yang mengalir dari bibir ini adalah perkataan yang lembut. Dan jika engkau melihatku berkulit hitam, tapi hatiku seputih kapas.”
Sebenarnya Alloh telah menyodorkan satu di antara dua pilihan kepada Luqman. Menjadi khalifah di bumi (nabi) atau mendapatkan hikmah. Dan ternyata Luqman lebih memilih diberi hikmah. Pada saat beliau tertidur di tengah hari, tiba tiba ada suara memanggilnya, “Wahai Luqman, bukankah Alloh telah memperkenankan engkau menjadi khalifah di bumi ? Sehingga engkau bisa menegakkan hukum dengan haq ?” Luqman menjawab, “Bila Alloh memberikan pilihan kepadaku, maka aku akan memilih selamat dan dijauhkan dari cobaan. Dan bila Alloh menegaskan pada hanya satu pilihan, maka aku hanya akan patuh dan taat. Karena aku yakin Alloh akan memberikan pertolongan kepadaku.” Kemudian suara malaikat tadi bertanya lagi, “Wahai Luqman, bukankah engkau diperkenankan untuk mendapatkan hikmat ?” Dengan indah beliau menjawab’ “Sesungguhnya seorang hakim itu berada pada posisi yang sangat berat dan yang paling keruh. Ia akan dikelilingi orang orang teraniaya dari segala penjuru. Bila ia bersikap adil, ia akan selamat. Sebaliknya bila ia melakukan kekeliruan, berarti ia akan tersesat jalan menuju surga. Seseorang yang menjadi hina di dunia akan lebih baik daripada menjadi orang mulia. Barang siapa yang memilih dunia dari pada akhirat, ia akan dicampakkan dunia dan tak dapat memperoleh akhirat.” Malaikat tercengang kagum mendengar jawaban yang disampaikan Luqman. Kemudian Alloh memerintahkan untuk memberinya hikmat.
“Hikmat” adalah pemahaman yang mendalam dalam bidang agama, kecerdasan akal dan kebenaran dalam ucapan.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ -  لقمان 13)

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Luqman adalah seseorang yang paling sayang dan cinta kepada anak anaknya. Maka sepantasnya beliaupun ingin memberikan hal yang terbaik untuk mereka. Karena itulah yang mula mula dinasihatkan kepada anaknya adalah menghindarkan diri dari mempersekutukan Alloh dengan apapun. Mempersekutukan Alloh adalah bentuk kazaliman. Sebab mempersamakan Dzat yang berhak disembah dengan yang tidak berhak berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Sewaktu turun ayat 82 surat Al An’am:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
para sahabat menjadi gundah gulana. Mereka bertanya tanya siapa di antara mereka yang tidak mencampur adukkan keimanannya dengan kezaliman. Kemudian Rosululloh menjelaskan, “Sesungguhnya tidak demikian. Tidakkah kalian ingat nasihat Luqman kepada anaknya: Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Alloh. Sesungguhnya perbuatan syirik adalah bentuk kezaliman yang besar.”
Selanjutnya Alloh memperkokoh nasihat Luqman tadi dalam ayat:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ – 14 –

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ – 15

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan
Kepatuhan dan berbuat yang terbaik kepada kedua orang tua adalah suatu perintah Alloh. Terlebih lagi terhadap ibunya. Sebab berbulan bulan lamanya beliau mngandung anaknya dengan menanggung segenap penderitaan. Setelah itu, siang malam selalu disibukkan dengan menyusui, merawat, menjaga dan mengasuhnya dengan penuh kecintaan. Hingga tiba waktunya untuk menyapihnya setelah ia genap berumur dua tahun. Karena itu lah sudah sepantasnya beliau lebih berhak untuk kita hormati dan kita muliakan.
Akan tetapi, kepatuhan ini tidak bersifat mutlak. Ini hanya berlaku untuk selain perintah melakukan pelanggaran pelanggaran syari’at dan mengabaikan ketentuan ketentuan syara’. Termasuk di dalamnya perintah kedua orang tua kepada anaknya untuk mempersekutukan Alloh. Tidak sekalipun seorang anak diperkenankan tunduk dan patuh pada perintah orang tuannya untuk berbuat syirik.
Ayat ini diturunkan pada waktu Sa’ad bin Malik masuk Islam. Ibunya yang tahu bahwa anaknya telah masuk Islam, bersumpah untuk melakukan aksi mogok makan dan minum hingga Sa’ad mau keluar lagi dari Islam. Walau toh ibunya telah berbuat begitu kepadanya, ia tetap bersikap baik kepada ibunya dan membujuknya untuk makan. Hingga pada hari ke tiga dan ibunya tetap tidak mau makan, Sa’ad berkata, “Wahai bunda, walaupun engkau memiliki seratus nyawa sekalipun, tidak akan pernah aku meninggalkan agamaku ini.” Ketika ibunya tahu bahwa anaknya tidak akan goyah imannya, maka ia pun menghentikan aksinya dan mau makan.
Dalam ayat ini pula Alloh memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada Nya dan berterima kasih kepada kedua orang tuanya. Kata Sufyan bin ‘Uyainah: “Barang siapa telah melakukan sholat lima waktu, berarti ia telah bersyukur kepada Alloh. Dan barang siapa telah mendo’akan kedua orang tuanya setelah sholat lima waktu, berarti ia telah bersyukur kepada kedua orang tuanya.”
Ketika anaknya bertanya kepada Luqman, “Wahai abah, apabila aku telah melakukan satu kesalahan yang tidak pernah bisa dilihat oleh siapapun, bagaimana Alloh bisa mengetahuinya ?” Beliau menjawabnya dengan sebuah nasihat yang tertuang dalam ayat:

يَابُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ – 16

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Nasihat ini adalah petuah terakhir beliau yang disampaikan kepada anaknya. Sebab petuah ini sangat begitu membekas di hati anaknya. Sehingga karena rasa takutnya yang begitu mendalam, empedunya pecah kemudian meninggal dunia.

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ – 17

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ – 18

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِير – 19

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Di samping sholat yang menjadi tugas ritual kita, amar ma’ruf nahi munkar yang memang semestinya menjadi garapan kaum muslimin, sebagaimana dinasiahatkan Luqman, sudah semestinya kita menghiasi diri kita dengan perilaku dan budi pekerti yang baik. Kita mesti lebih banyak berlatih untuk berlaku sabar dalam melaksanakan perintah perintah Alloh, dalam menahan diri dari melakukan larangan larangan Alloh. Juga bersabar dalam mengahadapi segala bentuk bencana dan cobaan yang menimpa diri kita.
Berusaha menghindarkan diri kita sejauh jauhnya dari sifat sombong dan membanggakan diri sendiri. Bersikap tenang dalam berjalan dan tidak menampakkan keangkuhan. Lemah lembut dalam bicara dengan suara sedang.
Menurut pendapat Wahb, Luqman telah membicarakan sebanyak dua belas ribu hal dengan hikmah. Di antaranya: ” Wahai ananda,
  1. Jadikanlah taqwa sebagai harta dagangmu, tentu engkau akan beruntung besar.
  2. Jangan engkau menjadi orang yang lebih lemah dari pada ayam jago. Ia akan bersuara di waktu waktu sahur sementara kamu masih merasa hangat di balik selimutmu.
  3. Jangan kau tunda taubatmu, karena kematian akan mendatangimu dengan tiba tiba.
  4. Kamu tidak akan pernah menyesal untuk bersikap diam dalam hal hal yang tidak berguna. Sebab bila berbicara itu adalah perak, maka bersikap diam adalah emas.
  5. Pergaulilah para ulama’ dan dengarkanlah kata kata hukama’. Karena Alloh menyuburkan bumi dengan tetesan air hujan. Siapa yang bohong berarti telah sirna air mukanya. Dan siapa yang berbudi pekerti buruk ia akan banyak merasakan kesusahan. Memindah batu besar dari tempatnya akan lebih gampang dari pada memahamkan orang yang tidak faham.
  6. Jangan kamu mempelajari sesuatu yang belum kamu ketahui sehingga kamu telah mengamalkan apa yang kamu ketahui.
  7. Dunia adalah lautan yang sangat dalam. Sudah banyak orang yang tenggelam di dalamnya. Karena itu jadikanlan taqwa sebagai perahumu untuk mengarunginya. Isinya adalah keimanan dan layarnya adalah tawakal kepada Alloh. Barangkali saja kamu akan selamat.
  8. Berharaplah kepada Alloh dengan pengharapan yang tidak menjadikanmu berani berbuat maksiat. Takutlah kepada Alloh dengan rasa takut yang tidak menjadikanmu merasa putus asa dari rohmat Alloh.
  9. Menjauhlah dari berhutang. Karena ia akan membuatmu terhina di siang hari dan merasa susah di malam hari.
  10. Ketika engkau telah terlahir ke dunia, berarti dunia telah membelakangimu dan akhirat telah menghadangmu. Rumah yang kamu tuju dalam perjalanan ini lebih dekat dari pada ruamah yang telah kamu tinggalkan.
Budi pekerti dan akhlak mulia bukanlah sekedar adat yang mesti kita lakoni. Tapi ia adalah sebuah pranata dan tatanan, yang mau tidak mau, harus kita terapkan dalam berbagai corak kehidupan.
Apa pun keberadaan kita, bagaimana pun posisi kita, nilai yang mesti kita tonjolkan adalah akhlaqul karimah. Seperti yang telah dicontohkan Luqman lewat pribadinya atau pun nasihat nasihat untuk anaknya.
Dari ilustrasi dan profil beliau yang begitu monumental, sebenarnya tersimpan sebuah rahasia kepribadian insan yang berkualitas kamil. Ketika beliau mendapatkan anugerah untuk menentukan pilihan antara dua kemuliaan, mendapatkan derajat kenabian dan mendapat hikmah, ternyata beliau lebih memilih hikmah bukan kenabian. Bukan karena derajat itu lebih tinggi, akan tetapi semua itu semata-mata atas kearifan beliau mengkoreksi dirinya terlalu berat menyandang gelar kenabian. Beliau mengkhawatirkan dirinya merasa tidak mampu mengembannya dengan baik
Begitulah sosok Luqman sang pujangga hikmah, dari bibir tebal meluncur kalam-kalam pelipur hati yang bebal, dan dari si kulit hitam bertebaranlah berjuta makna kehidupan penerang hati yang kelam. Semoga kita diberikan hikmah-hikmahnya, amin.
* Oleh Ust. Fauzi Hamzah & Ust Darul Azka

Rahasia Allah atas si kaya dan si miskin

Perjalanan hidup adalah skenario takdir, sulit diikuti, sukar pula untuk kita jelajahi episode episode berikutnya. Menapaki satu persatu tangga takdir tidak semudah memainkan alat musik yang dapat dengan mudah kita intuisikan dengan setiap ritme kegemaran.
Sangat manusiawi dalam hidup menginginkan selalu berkecukupan, namun tentunya harus direnungkan, keinginan adalah ritme manusia bukan ritme penciptanya. Lalu di mana letak rahasia itu tersimpan ?
Marilah kita rekam sekaligus kita renungkan hikmah dan renungan as-Syuura sebagai paket spesial al-Qur’an dalam memahami makna dan artikulasi antara hamba berizqi dan berkekurangan.
Allah berfirman dalam ayat ke 19 :

 اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (19)

 “Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (19)”
 Dalam pandangan Ja’far bin Muhammad bin Aly bin Husain, Allah bersikap lembut terhadap makhluqnya dalam pemberian rizqi dapat ditinjau dari dua arah. Pertama, Allah memilihkan rizqi untuk hamba hambanya dari hal hal yang baik. Kedua, rizqi tidak diberikan dalam satu tempo sekaligus, akan tetapi dianugerahkan dengan jalan bertahap. Sehingga dengan itu makhluq tidak akan menyia nyiakan (tabdzir) pada rizqi yang telah diberikan.
Allah menganugerahkan rizqi kepada siapapun yang dikehendaki Nya. Terkadang melebihkan rizqi seseorang dari pada orang lain. Ini bukan berarti bentuk ketidak adilan atau kedzaliman. Hikmah yang dapat dipetik dari ini adalah keseimbangan kehidupan yang berlangsung di muka bumi. Perbedaan dalam pendapatan rizki akan dapat menciptakan kondisi saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Yang merasa kaya akan membutuhkan tenaga seseorang dalam mengelola harta bendanya. Sebaliknya, yang berkekurangan akan dapat menyumbangkan tenaganya demi hajat mereka atas harta si kaya.
Di sisi lain dapat pula kita fahami, bahwa kekayaan dan kefakiran adalah bentuk cobaan. Bagaimana si kaya bersikap kepada yang fakir dan apa sikap yang ditampakkan si fakir terhadap yang kaya. Kemudian akan dapat dilihat seberapa besar kesabaran mereka dalam menanggung cobaannya masing masing.

 مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ (20)

 “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (20)”
 Sebagaimana diungkapkan Al Qusyairi, ayat ini adalah sebuah peringatan bagi setiap manusia agar tidak terbujuk oleh kehidupan dunia seperti yang telah terjadi pada orang orang kafir.
Imam Qatadah menyampaikan pemahaman menarik mengenai ayat ini. Beliau mengatakan, pada hakekatnya Allah akan tetap selalu memberikan apapun yang manusia inginkan dari kepentingan dunia selama orientasi hidupnya tetap dalam bingkai kepentingan akhirat. Dan sebaliknya, manusia hanya akan mendapatkan jatah duniawi belaka tatkala orientasi hidupnya hanyalah untuk urusan dunia. Allah telah berjanji, selama seorang hamba masih teguh memperjuangkan amal-amal akhirat, Dia akan selalu menambahkan pahala demi pahala, sekaligus menjamin porsi rizki yang tertulis untuknya. Sedangkan bagi mereka yang melalaikan akhirat, sibuk memakmurkan dunia, maka hanya penantian siksa yang akan menjadi jatahnya kelak dan ia pun tidak kuasa mendapatkan lebih kecuali atas porsi rizki dunianya.
Tujuan final dari amal dan perilaku kita atas dunia adalah akhirat. Segala bentuk tindakan yang terarahkan pada tujuan ini, sekalipun bernafaskan duniawi, Allah menjajikan kelipatan pahala perbuatannya tanpa mengenyampingkan kepentingan dunianya. Namum manakala tujuan ini telah berbalik arah, menempatkan dunia sebagai tempat tujuannya, maka siksa yang telah diancamkan Alloh akan menanti. Sebagaimana ancaman Allah terhadap orang orang kafir Makkah yang telah menuruti tuntunan dan bisikan teman sekutunya (syaitan). Seperti yang tertuang dalam ayat berikut.

 أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (21) تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (22)

 “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih (21) Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar(22).”
Perjuangan menanamkan kasih sayang nampak disinggung bagi Nabi. Allah juga menyerukan kepada Nabi untuk meminta kaum Quraysh menghentikan segala permusuhan dan hidup dalam kebersamaan. Dan sebagai contoh langsung bentuk amal yang berorientasikan akhirat murni, Alloh menyerukan kepada Rosululloh untuk tidak menuntut imbalan atas usahanya dalam menyampaikan risalah.
Allah telah menjanjikan “karunia yang besar”, dan bukan itu saja, dijanjikan pula pahala yang besar bagi mereka yang mau beramal kebaikan dengan kelipatan pahala di akhirat. Sedangkan bagi mereka yang tetap asyik dengan kekafirannya, telah diperingatkan akan adanya siksa yang teramat pedih. Kecuali bagi mereka yang mau bertaubat dan menghentikan segala bentuk pembangkangan terhadap Allah, penyesalan dan taubat mereka tidak akan pernah disia siakan Alloh. Hal ini bisa kita simak dalam ayat selanjutnya :

ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ (23) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَإِنْ يَشَأِ اللَّهُ يَخْتِمْ عَلَى قَلْبِكَ وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (24) وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (25) وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَالْكَافِرُونَ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ (26)

“Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (23) Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah”. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Qur’an). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati (24) Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan (25) dan Dia memperkenankan (do`a) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras”(26).
Memantapkan nilai hikmah yang terkandung dalam beberapa ayat di atas, Allah juga berfirman dalam ayat ke 27 :

 وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ (27)

 “Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”.
 Dengan hikmah dari ayat ini, sekarang dapat kita rasakan betapa Allah adalah Sang Maha Pengatur yang tidak ada duanya. Ritme kehidupan terasa begitu indah kita jalani. Mungkin perasaan kita bertanya-tanya, di mana letak kekeliruan manusia dalam tindakan yang melampaui batas ketika mereka dianugerahi nikmat harta yang sepadan ?.
Para mufassir telah menelaah hal ini dalam beberapa sudut pandang rasional.
Pertama, andai saja terjadi semua manusia memiliki kelapangan rizki sepadan, niscaya tidak ada lagi istilah membutuhkan maupun dibutuhkan, yang artinya tidak akan ada interaksi. Interaksi adalah keseimbangan, sehingga musnahnya interaksi adalah terganggunya keseimbangan kehidupan dan kemaslahatan.
Kedua, spesifikasi ayat ini adalah untuk bangsa Arab, dimana ketika mereka semua diberikan nikmat rejeki yang sama, dengan air hujan mereka sudah mendapatkan kesegaran, dari tumbuh-tumbuhan mereka sudah bisa menghilangkan rasa lapar dan dari segala apa yang ada semua menjadi surga, maka niscaya sehari-harinya mereka hanya akan menjadi penjahat dan perompak yang menjarah kekayaan orang lain.
Ketiga, selain kedua hal di atas, manusia memiliki tabiat asli yang berupa kesombongan dalam dirinya. Sehingga ketika manusia merasakan nikmat kaya raya dengan harta yang melimpah ruah, niscaya mereka akan kembali pada tabiat aslinya, menjadi penyombong. Sedangkan ketika berada pada posisi kesulitan, tertimpa bencana dan kesedihan mendalam dengan serta merta mereka akan bersikap tawadlu‘ dan taat.
Ibn Abbas mengatakan, manusia dikatakan melampaui batas karena mereka akan selalu memburu kedudukan yang lain setelah memperoleh kedudukan yang ia raih, bersaing mendapatkan kendaraan, setelah kendaraan yang lain ia dapatkan dan berlomba busana setelah ia miliki busana mewah yang lain.
Sebuah maqalah mungkin akan menyadarkan kita; “Andai saja manusia diberikan sesuatu yang banyak niscaya ia meminta yang terbanyak dan andaikan dia telah kuasai dua tambang emas ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan tambang yang ketiga”.
Kesempitan dalam rizki bukanlah suatu kehinaan, dan kelapangan dalam rizki bukanlah suatu keutamaan. Segala apa pun yang diperbuat Alloh akan selalu dalam bingkai “maslahat”, meskipun itu bukan suatu keharusan bagi Nya. Allah maha tahu atas apa yang terbaik dan yang dibutuhkan hambanya. Seorang mu’min dianugerahi kelapangan rizki, karena Allah tahu bahwa itu yang terbaik untuknya. Andai saja ia diberi kesulitan dalam hal rizki, mungkin justru ia akan berbuat kerusakan. Dan seorang mu’min dianugerahi kesempitan dalam rizki, karena Allah pun tahu bahwa itu yang terbaik untuknya. Andai saja ia diberi kelapangan rizki, mungkin justru ia akan berbuat kerusakan. Menyesatkan dirinya sendiri dan melalaikan tugasnya sebagai hamba Allah.
Menurut sebagian tafsiran, ayat di atas terkait dengan pemahaman ayat ke 28, di mana Allah berfirman :

 وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ (28)

 “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji“.
 Maksudnya, seandainya Allah memberikan limpahan rizki berupa hujan yang terus menerus mengguyur muka bumi, niscaya manusia tidak akan mengangkat kedua tangannya untuk memohon kepada Allah. Sehingga dapat kita lihat, adakalanya manusia menengadahkan kedua tangannya dengan bersimpuh dan di lain waktu mereka membuka kedua tangannya untuk bersyukur. Hingga kemudian Allah menegaskan dalam ayat ke 28 bahwa hujan maupun kekeringan di bumi adalah hikmah ketuhanan, dimana Allah menunjukkan kekuasaanNya setelah semua makhluk tidak mampu berbicara dan berputus asa untuk mendatangkan setetes air penyejuk bumi. Allah pun menyebarkan rahmat yang menurut sebagian tafsiran berupa berkah dan manfaat air hujan yang bisa kita saksikan dengan jelas di julangan gunung, jurang, tumbuh-tumbuhan dan makhluk bumi lainnya. Sungguh besar kekuasaan Allah, Tuhan semesta alam…!
* Ust. Fauzi Hamzah & Ust. Darul Azka

tuntunan merawat orang sekarat

Fiqh Islam memberikan tuntunan terkait tindakan yang dilakukan terhadap orang yang sakit keras / sekarat (muhtadlir). Apabila nampak tanda-tanda ajalnya sudah tiba, maka tindakan yang sunah dilakukan oleh orang yang sedang menungguinya adalah:
1. Membaringkan muhtadlir pada lambung sebelah kanan untuk menghadapkannya ke arah kiblat. Jika tidak memungkinkan,semisal disebabkan tempatnya terlalu sempit atau ada semacam gangguan pada lambung kanannya, maka ia dibaringkan pada lambung sebelah kiri. Dan jika masih tidak memungkinkan, maka ditidur lentangkan menghadap kiblat dengan memberi ganjalan di bawah kepala agar wajahnya bisa lurus menghadap ke arah tersebut.
2. Membaca surat Yasin dengan agak keras dan al-Ro’du dengan suara yang pelan. Faidah pembacaan Surat ini – kata al-Qulyubi, adalah mempermudah keluarnya ruh, disamping ada sebuah hadits yang menjelaskan, bahwa ia akan mati, masuk dan bangkit dari alam kubur dalam keadaan segar bugar. Dalam Nihayah Az-Zain, Syaikh Nawawi Banten menambahkan, jika tidak mungkin membaca keduanya, maka surat yang dibaca disesuaikan dengan keadaan muhtadlir. Yakni apabila masih ada kesadaran dalam diri muhtadlir, maka surat Yasin-lah yang dibaca. Dan jika sudah tidak ada, maka yang dibaca adalah surat al-Ro’du karena surat ini berfaedah mempermudah keluarnya ruh.
3. Men-talqin dengan kalimat Tahlil secara santun (lembut) tidak menampakkan kesan memaksa. Semisal, mulaqqin (orang yang mentalqin) mengingatkan disampingnya dengan ucapan: “ dzikir kepada Alloh itu amat diberkahi”, atau mengajak hadirin dzikir bersama. Dalam talqinnya, Mulaqqin tidak perlu menambahkan lafadz Asyhadu kecuali muhtadlir bukan seorang mukmin dan ada harapan ia masuk Islam, maka talqinnya disamping harus mencantumkan lafadz tersebut juga harus disempurnakan menjadi dua kalimat syahadat agar ia meninggal dalam keadaan Islam.
Talqin ini tidak usah diulang kembali jika muhtadlir telah mampu mengucapkannya, selama ia tidak berbicara lagi – dan menurut Ulama’ Jumhur, walaupun mengenai hal-hal yang berkenaan dengan akhirat. Karena tujuan talqin ini, agar kalimat Tahlil menjadi penutup kalimat yang terucap dari mulutnya. Rosululloh bersabda :

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah “Laa ilaaha illallâh”, maka dia masuk sorga.
4. Sunah memberi minum, lebih-lebih jika nampak gejala ia menginginkannya. Karena dalam kondisi seperti itu, syeitan bisa saja menawarkan minuman yang akan ditukar dengan keimanannya.
Sesaat Setelah Ajal Tiba
Setelah muhtadhir telah melalui kematiannya, seperti adanya tanda-tanda mengendornya telapak tangan dan kaki, cekungnya pelipis dan hidung yang tampak lemas, tindakan berikutnya yang sunah dilalukan adalah:
1. Memejamkan kedua matanya seraya membaca:

بِاسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ يَسِّرْ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَسَهِّلْ عَلَيْهِ مَا بَعْدَهُ وَأَسْعِدْهُ بِلِقَائِك وَاجْعَلْ مَا خَرَجَ إلَيْهِ خَيْرًا مِمَّا خَرَجَ مِنْهُ الّلهُم اغْفِرلَهُ وَارْحَمْهُ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فىِ المَهْدِيينَ وَاخْلُفْهُ فىِ عَقِبهِ الغَابِرِينَ وَاغْفِرْلناَ وَلَهُ ياربَّ العَالَمِينَ وَافسَحْ لَهُ فىِ قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ


Jika sampai terlambat hingga kedua matanya tidak bisa dipejamkan, maka cara memejamkannya dengan menarik kedua lengan serta kedua ibu jari kakinya secara bersamaan, niscaya kedua mata tersebut akan terpejam dengan sendirinya.

2. Mengikat rahangnya ke atas kepala dengan memakai kain yang agak lebar agar mulutnya tidak terbuka.

3. Melemaskan sendi-sendi tulangnya dengan melipat tangan ke siku, lutut ke paha dan paha ke perut. Setelah itu dibujurkan kembali, kemudian jari-jari tangannya dilemaskan. Jika agak terlambat sehingga tubuhnya sudah kaku, maka sunah dilemaskan memakai minyak. Hikmah dari pelemasan ini agar mempermudah proses pemandian dan pengkafanannya nanti.
Melemaskan sendi-sendi tulang dengan melipat tangan ke siku, sebagaimana gambar berikut :


Melemaskan sendi-sendi tulang dengan melipat lutut ke paha dan paha ke perut, sebagaimana gambar berikut :

4. Melepaskan pakaiannya secara perlahan. Kemudian disedekapkan lalu mengganti pakaian tersebut dengan kain tipis, (izar misalnya) yang ujungnya diselipkan di bawah kepala dan kedua kakinya (menutupi semua tubuh). Kecuali jika ia sedang menunaikan ibadah Ihram, maka kepalanya harus dibiarkan tetap terbuka.

5. Meletakkan beban seberat 20 dirham (20gr x 2,75gr = 54,300gr) atau secukupnya di atas perutnya dengan dibujurkan dan diikat agar perutnya tidak  membesar.

6. Membebaskan segala tanggungan hutang atau lainnya. Dan jika tidak mungkin dilakukan pada saat itu, maka segeralah ahli warinya malakukan aqad Hawalah (pelimpahan tanggungan hutang) dengan orang-orang yang bersangkutan. Dan sunah bagi mereka menerima tawaran tersebut.
مَنْ كاَنَ آخِرُ كَاَlمِهِ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah “Laa ilaaha illallâh”, maka dia masuk sorga.
Filed under: Fikih, Fikrah · Tags: ,